Remaja merupakan kelompok manusia yang
berada diantara usia anak-anak dan dewasa (Jones, 1997). Permulaan masa
remaja dimulai saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat
mencapai usia matang secara hukum diakui hak-haknya sebagai warga negara.
Remaja sering kali disebut adolescence (adolescere dalam bahasa
latin) yang secara luas berarti masa tumbuh dan berkembang untuk mencapai
kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1995). Masa remaja
menurut WHO adalah antara 10-24 tahun, sedangkan menurut Monks (1992) masa
remaja berlangsung pada umur 12-21 tahun dengan pembagian masa remaja
awal (12-15 tahun), masa remaja pertengahan (15-18 tahun) dan masa remaja akhir
(18-21 tahun).
Masa remaja adalah salah satu fase
yang penting dari proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Kondisi
seseorang pada masa dewasa banyak ditentukan
oleh keadaan gizi dan kesehatan pada masa remaja. Oleh karena itu status gizi
dan kesehatan merupakan faktor penentu kualitas remaja. Dengan status gizi dan
kesehatan yang optimal pertumbuhan dan perkembangan remaja menjadi lebih
sempurna.
Masalah gizi pada remaja muncul
dikarenakan perilaku gizi yang salah, yaitu ketidakseimbangan antara konsumsi
gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Masalah gizi yang dapat terjadi
pada remaja adalah gizi kurang (under weight), obesitas (over weight) dan anemia.
Gizi kurang terjadi karena jumlah konsumsi energi dan zat-zat gizi lain tidak
memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi para remaja putri, gizi kurang umumnya
terjadi karena keterbatasan diet atau membatasi sendiri intik makannya.
Kejadian gizi lebih remaja disebabkan kebiasaan makan yang kurang baik sehingga
jumlah masukan energi (energy intake) berlebih, sedangkan kejadian
anemia pada remaja karena intik zat besi yang rendah. Remaja putri lebih
beresiko terkena anemia selain karena keterbatasan intik pangan hewani juga
karena menstruasi dan meningkatnya kebutuhan zat besi selama growth spurt.
Status gizi remaja
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor ekonomi, faktor budaya
seperti kebiasaan makan dan lain sebagainya. Kebiasaan makan yang kurang baik pada remaja dan keinginan
untuk terlihat langsing, khususnya pada remaja putri seringkali menimbulkan
gangguan makan (eating disorder). Gangguan pola makan yang umum diderita
khususnya oleh remaja putri adalah bulimia dan anorexsia nervosa.
Pada masa remaja,
khususnya remaja putri, dengan berat badan normal tidak puas dengan bentuk dan
berat badannya dan ingin menjadi lebih kurus. Pada remaja putri ini pada
umumnya ingin mempunyai bentuk badan yang lebih langsing, ramping dan menarik.
Untuk mencapai hal tersebut mereka tidak segan-segan melakukan hal-hal yang
justru tidak mereka sadari dapat membahayakan diri dan kesehatnnya. Agar tampak
langsing dan menarik mereka tidak mau makan pagi, mengurangi frekuensi makan
bahkan melakukan diet yang berlebihan (Gunawan, 1997). Hal senada diungkapkan
oleh Daniel dalam Arisman (2002) hampir 50% remaja terutama remaja yang lebih
tua, tidak sarapan. Penelitian lain membuktikan masih banyak remaja sebesar 89%
yang meyakini kalau sarapan memang penting, namun yang sarapan secara teratur
hanya 60%. Remaja putri malah melewatkan dua kali waktu makan, dan lebih
memilih kudapan.
Gangguan makan yang umumnya ditemui
pada remaja putri adalah anorexia nervosa dan bulimia. Anoreksia adalah
aktivitas untuk menguruskan badan dengan melakukan pembatasan makan secara
sengaja dan melalui control yang ketat karena ketakutan akan kegemukan dan
bertambahnya berat badan (Wardlaw et.al., 1992). Penderita anoreksia sadar
bahwa mereka merasa lapar namun takut untuk memenuhi kebutuhan makan mereka
karena bisa berakibat naiknya berat badan. Persepsi mereka terhadap rasa
kenyang terganggu sehingga pada saat mereka mengkonsumsi sejumlah makanan dalam
porsi kecil sekalipun, mereka akan segera merasa ‘penuh’ atau bahkan mual. Mereka terus menerus melakukan
diet mati-matian untuk mencapai tubuh yang kurus. Pada akhirnya kondisi ini
bisa menimbulkan efek yang berbahaya yaitu kematian. Diperkirakan satu dari
seratus remaja putri atau 1 % antara usia 12 tahun sampai 18 tahun mengalami
anorexia nervosa.
Hanya sedikit remaja pria yang mengalami anorexia nervosa sehubungan dengan gambaran tubuh laki-laki yang berbeda dengan wanita yaitu yang besar dan berotot. Remaja laki-laki mengontrol berat badannya dengan aktivitas olah raga seperti jodo dan hanya sedikit yang mungkin mengembangkan bulimia. (Wardlaw et.al., 1992). Kalau penderita anoreksia berusaha untuk menahan rasa lapar dan berupaya sekeras mungkin untuk tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang besar, maka penderita bulimia cenderung senang mengkonsumsi makanan yang mereka sukai. Pada dasarnya, tujuan akhir dari penderita bulimia dan anoreksia adalah sama, yaitu untuk mempertahankan bentuk tubuhnya selangsing (sekurus) mungkin dengan cara yang berbeda. Penderita bulimia cenderung mengkonsumsi makanan yang disukai dan makan berlebihan untuk memuaskan keinginanya, namun kemudian akan memuntahkannya kembali hingga tidak ada makanan yang tersisa. Dengan demikian terhindar dari kegemukan tetapi tetap menjadi kurus tanpa perlu menahan keinginan mereka untuk makan.
Hanya sedikit remaja pria yang mengalami anorexia nervosa sehubungan dengan gambaran tubuh laki-laki yang berbeda dengan wanita yaitu yang besar dan berotot. Remaja laki-laki mengontrol berat badannya dengan aktivitas olah raga seperti jodo dan hanya sedikit yang mungkin mengembangkan bulimia. (Wardlaw et.al., 1992). Kalau penderita anoreksia berusaha untuk menahan rasa lapar dan berupaya sekeras mungkin untuk tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang besar, maka penderita bulimia cenderung senang mengkonsumsi makanan yang mereka sukai. Pada dasarnya, tujuan akhir dari penderita bulimia dan anoreksia adalah sama, yaitu untuk mempertahankan bentuk tubuhnya selangsing (sekurus) mungkin dengan cara yang berbeda. Penderita bulimia cenderung mengkonsumsi makanan yang disukai dan makan berlebihan untuk memuaskan keinginanya, namun kemudian akan memuntahkannya kembali hingga tidak ada makanan yang tersisa. Dengan demikian terhindar dari kegemukan tetapi tetap menjadi kurus tanpa perlu menahan keinginan mereka untuk makan.

Izin copy sediiikiiit ya mbak :D semoga berkah. terimakasih sebelumnya :D
BalasHapus