Kamis, 31 Mei 2012

Maja [tak] pahit



(Aegle marmelos)
 
Menurut kisah dalam sejarah, buah maja terkait dengan asal usul Kerajaan Majapahit (1293-1527). Konon, Raden Wijaya dan para pengikutnya -babat alas- Tanah Tarik (sekarang wilayah Mojokerto, Jawa Timur). Mereka menemukan banyak pohon maja yang sedang berbuah, dan buahnya pahit. Karena itu, mereka memberikan nama daerah itu sebagai “Majapahit”.

Selanjutnya, Majapahit menjadi nama kerajaan yang dipimpin oleh Raden Wijaya. Kemudian pada zaman kekuasaan Hayam Wuruk dengan patihnya yang bernama Gajah Mada, berhasil menyatukan nusantara. And than, the next kisah mungkin ada yang lebih kompeten untuk menceritakannya..he,
Tapi benarkah buah maja berasa pahit?
Buah ini tidak berasa pahit, justru buahnya beraroma harum dan berasa manis. Mungkin saja yang dimakan prajurit Majapahit adalah buah maja yang masih muda, (mungkin, hehe)

Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan: Plantae;
Divisi: Magnoliophyta;
Kelas: Magnoliopsida;
Subkelas: Rosidae;
Ordo: Sapindales;
Famili: Rutaceae;
Genus: Aegle;
Spesies: Aegle marmelos.

Buah maja memiliki nama latin Aegle marmelos. Genus Aegle terdiri dari enam spesies, yaitu Aegle barteri, Aegle correa, Aegle decandra, Aegle glutinosa, Aegle marmelos, dan Aegle sepiaria. Buah maja disebut juga bael atau maja batu atau maja manis. Penggunaan kata maja manis dimaksudkan untuk membedakan dari maja yang selama ini menurut kisah berasa pahit.

Habitat asli buah ini tersebar mulai dari Pakistan, India, tenggara Nepal, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, dan Indonesia tentunya. Selain disebut bael, buah ini di negara-negara habitatnya diberi nama bilva, bilwa, bel, kuvalam, koovalam, madtoum, beli fruit, Bengal quince, stone apple, atau wood apple.

Tanaman maja (Aegle marmelos) merupakan pohon berkayu keras dan bisa tumbuh sampai setinggi sekitar 20 meter. Batangnya bulat mempunyai permukaan kulit yang kasar berwarna coklat. Pohon ini mempunyai banyak cabang. Daunnya tunggal berwarna hijau, berbentuk lonjong dengan ujung dan pangkal meruncing, dan tepi daun bergerigi.

Bagian yang dapat dimakan (daging buahnya) sebanyak 56-77% dari keseluruhan buah. Untuk setiap 100 gram buah maja mengandung:
Air : 61,5 gram
Protein : 1,8 gram
Lemak : 0,39 gram
Karbohidrat : 31,8 gram
Karoten : 55 mg
Tiamin : 0,13 mg
Riboflafin : 1,19
Niasin : 1,1 mg
Vitamin C : 8 mg

Bunga maja sangat harum. Saat buah maja berbunga, wanginya bisa tercium dari jarak beberapa meter. Buah maja berbentuk bulat agak lonjong dengan panjang sekitar 5-12 cm. Kulit buah berwarna hijau ketika muda dan menjadi coklat setelah tua. Daging buah berwarna kuning hingga jingga. Buahnya berair, beraroma wangi dan berasa manis. Satu pohon bisa menghasilkan 300-an butir buah. Buah maja biasanya masak pada musim kemarau bersamaan dengan daun-daunnya yang meluruh.

Masyarakat wilayah Asia Selatan, biasa mengkonsumsi daging buah maja dalam keadaan segar ataupun yang sudah dikeringkan, dan dipercaya berkhasiat melancarkan buang air besar dan gangguan pencernaan. Daun buah maja juga bisa dikonsumsi. Pucuk daun buah maja merupakan sayuran yang populer di negara-negara Asia Selatan. Dalam ilmu pengobatan tradisional India, maja dipercaya bisa mengobati berbagai gangguan kesehatan seperti demam, gangguan pencernaan, terutama sembelit (susah buang air besar) kronis.

Tanaman ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi bagi Indonesia, dan mungkin bisa menjadi komoditas buah yang menarik. Lebih asik lagi pastinya kalau pohon maja ini berdiri berjajar di sepanjang situs Majapahit dan menjadi icon daerah Mojokerto.

#Penasaran dengan rasa maja[tak]pahit? Lets go Mojokerto,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar