Rabu, 30 Mei 2012

Besi (Fe) dan Tumbuh Kembang Anak

Besi (Fe) merupakan mikronutrien yang esensial dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi dalam mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, mengangkut elektron dalam sel, dan dalam mensintesis enzim yang mengandung besi yang dibutuhkan untuk menggunakan oksigen selama memproduksi energi selluler (Bothwell, et al., 1979 dan Commission of European Communities (CEC), 1993 cit Gillespie, 1998).
Keseimbangan besi ditentukan oleh simpanan besi di dalam tubuh, absorpsi besi, dan besi yang hilang. Sedikitnya 2/3 besi dalam tubuh merupakan besi yang bersifat fungsional, kebanyakan dalam bentuk hemoglobin. Selama masa sirkulasi sel darah merah, beberapa sebagai mioglobin di dalam sel otot dan sebagian ada di dalam enzim yang mengandung besi. Paling banyak sisa besi dalam tubuh disimpan dalam bentuk cadangan besi (bentuk ferritin dan hemosiderin) yang berfungsi sebagai simpanan yang dapat digunakan bila dibutuhkan. Anak-anak mempunyai simpanan besi yang rendah yang disebabkan karena besi digunakan untuk pertumbuhan dan pertambahan volume darah (Dallman et al., 1980 cit Gillespie, 1998).
Defisiensi besi merupakan kekurangan zat gizi yang biasa terjadi di Negara berkembang dan industri. Apabila tubuh mengalami kekurangan besi, dapat menyebabkan anemi kurang besi. Anemia defisiensi besi adalah keadaan penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah sampai kadar di bawah 11 g/dl. Cut off point hemoglobin anak usia 6 bulan - 6 tahun adalah 11 gr% (WHO, 1968 cit Hadisaputro, 1977). Konsekuensi anemia defisiensi besi diakui memberi pengaruh terhadap metabolisme energi dan fungsi kekebalan yang akan berpengaruh pada fungsi kognitif dan perkembangan motorik (Walter, 1993, Dallman et al, 1980 cit Lonnerdal, 1998).
Defisiensi besi juga berhubungan dengan menurunnya fungsi kekebalan yang diukur dengan perubahan dalam beberapa komponen sistem kekebalan yang terjadi selama defisiensi besi. Konsekuensi dari perubahan fungsi kekebalan adalah resistensi terhadap penyakit infeksi. Pada anak-anak defisiensi besi berhubungan dengan kelesuan, daya tangkap rendah, lekas marah dan menurunnya kemampuan belajar (Lozoff dan Brittenham, 1986 cit Recommended Dietary Allowences (RDA), 1989).
Pada tiga bulan pertama kehidupan kebutuhan bayi terhadap besi dapat dipenuhi dari air susu ibu (ASI). Pada bayi yang dari lahir sampai usia 3 tahun tidak diberi ASI membutuhkan besi kira-kira 1 mg/kg per hari. Kebutuhan sehari-hari yang dianjurkan untuk usia 6 bulan - 3 tahun adalah 10 mg/hari yang rnerupakan suatu kadar yang telah dipertimbangkan dapat memenuhi kebutuhan anak pada saat itu (RDA, 1989).
Defisiensi besi umumnya terjadi pada usia 6–12 .bulan atau 1-2 tahun, yaitu 70% kebutuhan besi pada usia 6-12 bu1an dan 50% kebutuhan besi pada usia 1-2 tahun terjadi saat pertumbuhan jaringan yang cepat. Pada tahun pertama kehidupan, kebutuhan seorang bayi untuk mengabsorpsi besi sama besarnya dengan kebutuhan seorang laki-laki dewasa, dan hal ini sangat sulit untuk dipenuhi.
Prevalensi tertinggi defisiensi besi terjadi bersamaan dengan saat terakhir pertumbuhan otak anak (6-24 bulan), yaitu pada saat terbentuknya kemampuan kognitif dan motorik (Martorell, 1977 cit Gillespie, 1998). Kandungan besi dalam otak pada saat lahir hanya 10% dan 50% pada usia 10 tahun (CEC, 1993 cit Gillespie, 1998). Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menderita defisiensi besi hasil tes psikomotornya kurang baik dibandingkan anak-anak yang tidak anemia (Pollit and Metallinos-Katsaras, 1990 cit Gillespie, 1998). Judisch et al. 1986 cit Gillespie, 1998 juga menegaskan bahwa jika terjadi defisiensi besi pada usia 6-24 bulan yaitu, pada saat terjadi pertumbuhan yang pesat, dengan konsekuensi dapat mengganggu penggunaan energi dan pertumbuhan fisik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar