Besi
(Fe) merupakan mikronutrien yang esensial dalam memproduksi hemoglobin yang
berfungsi dalam mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, mengangkut
elektron dalam sel, dan dalam mensintesis enzim yang mengandung besi yang
dibutuhkan untuk menggunakan oksigen selama memproduksi energi selluler
(Bothwell, et al., 1979 dan Commission of European Communities (CEC),
1993 cit Gillespie, 1998).
Keseimbangan
besi ditentukan oleh simpanan besi di dalam tubuh, absorpsi besi, dan besi yang
hilang. Sedikitnya 2/3 besi dalam tubuh merupakan besi yang bersifat
fungsional, kebanyakan dalam bentuk hemoglobin. Selama masa sirkulasi sel darah
merah, beberapa sebagai mioglobin di dalam sel otot dan sebagian ada di dalam
enzim yang mengandung besi. Paling banyak sisa besi dalam tubuh disimpan dalam
bentuk cadangan besi (bentuk ferritin dan hemosiderin) yang berfungsi sebagai
simpanan yang dapat digunakan bila dibutuhkan. Anak-anak mempunyai simpanan
besi yang rendah yang disebabkan karena besi digunakan untuk pertumbuhan dan
pertambahan volume darah (Dallman et al., 1980 cit Gillespie,
1998).
Defisiensi
besi merupakan kekurangan zat gizi yang biasa terjadi di Negara berkembang dan
industri. Apabila tubuh mengalami kekurangan besi, dapat menyebabkan anemi
kurang besi. Anemia defisiensi besi adalah keadaan penurunan konsentrasi
hemoglobin dalam darah sampai kadar di bawah 11 g/dl. Cut off point
hemoglobin anak usia 6 bulan - 6 tahun adalah 11 gr% (WHO, 1968 cit Hadisaputro,
1977). Konsekuensi
anemia defisiensi besi diakui memberi pengaruh terhadap metabolisme energi dan
fungsi kekebalan yang akan berpengaruh pada fungsi kognitif dan perkembangan
motorik (Walter, 1993, Dallman et al, 1980 cit Lonnerdal, 1998).
Defisiensi
besi juga berhubungan dengan menurunnya fungsi kekebalan yang diukur dengan
perubahan dalam beberapa komponen sistem kekebalan yang terjadi selama
defisiensi besi. Konsekuensi dari perubahan fungsi kekebalan adalah resistensi
terhadap penyakit infeksi. Pada anak-anak defisiensi besi berhubungan dengan
kelesuan, daya tangkap rendah, lekas marah dan menurunnya kemampuan belajar
(Lozoff dan Brittenham, 1986 cit Recommended Dietary Allowences (RDA),
1989).
Pada
tiga bulan pertama kehidupan kebutuhan bayi terhadap besi dapat dipenuhi dari
air susu ibu (ASI). Pada bayi yang dari lahir sampai usia 3 tahun tidak diberi
ASI membutuhkan besi kira-kira 1 mg/kg per hari. Kebutuhan sehari-hari yang
dianjurkan untuk usia 6 bulan - 3 tahun adalah 10 mg/hari yang rnerupakan suatu
kadar yang telah dipertimbangkan dapat memenuhi kebutuhan anak pada saat itu
(RDA, 1989).
Defisiensi
besi umumnya terjadi pada usia 6–12 .bulan atau 1-2 tahun, yaitu 70% kebutuhan
besi pada usia 6-12 bu1an dan 50% kebutuhan besi pada usia 1-2 tahun terjadi
saat pertumbuhan jaringan yang cepat. Pada tahun pertama kehidupan, kebutuhan
seorang bayi untuk mengabsorpsi besi sama besarnya dengan kebutuhan seorang
laki-laki dewasa, dan hal ini sangat sulit untuk dipenuhi.
Prevalensi
tertinggi defisiensi besi terjadi bersamaan dengan saat terakhir pertumbuhan
otak anak (6-24 bulan), yaitu pada saat terbentuknya kemampuan kognitif dan
motorik (Martorell, 1977 cit Gillespie, 1998). Kandungan besi dalam otak
pada saat lahir hanya 10% dan 50% pada usia 10 tahun (CEC, 1993 cit Gillespie,
1998). Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menderita defisiensi
besi hasil tes psikomotornya kurang baik dibandingkan anak-anak yang tidak
anemia (Pollit and Metallinos-Katsaras, 1990 cit Gillespie, 1998). Judisch et al. 1986 cit Gillespie,
1998 juga menegaskan bahwa jika terjadi defisiensi besi pada usia 6-24 bulan
yaitu, pada saat terjadi pertumbuhan yang pesat, dengan konsekuensi dapat
mengganggu penggunaan energi dan pertumbuhan fisik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar