Zinc
(Zn) yang biasanya juga disebut dengan Seng merupakan zat gizi yang esensial
dan telah mendapat perhatian yang cukup besar akhir-akhir ini. Zinc berperan dalam bekerjanya lebih dari 10 macam enzim. Berperan di dalam sintesa
Dinukleosida Adenosin (DNA), Ribonukleosida Adenosin (RNA), dan protein.
Maka bila terjadi defisiensi zinc dapat menghambat pembelahan sel, pertumbuhan
dan perbaikan jaringan (Shanker dan Prasad, 1998).
Zinc
umumnya ada di dalam otak, di mana zinc mengikat protein. Kekurangan zinc akan
berakibat fatal terutama pada pembentukan struktur otak, fungsi otak, mengganggu respon tingkah laku dan emosi (Black, 1998). Menurut Eschlemen
(1996), zinc adalah suatu komponen dari beberapa sistem enzim, yang berfungsi dalam sintesa protein, transport karbon dioksida, dan proses
penggunaan vitamin A.
Prasad
dan Halsted mengatakan bahwa defisiensi zinc menyebabkan stunting dan hypogonadism
pada anak laki-laki petani Iranian. Mereka kemudian menegaskan dalam hipotesis
mereka pada remaja di Egyptian dan Iranian melalui penelitian tentang
metabolisme zinc dan percobaan terapeutik. Defisiensi zinc juga diketahui
terjadi pada anak-anak dan orang dewasa di beberapa negara, dan menjadi masalah
kesehatan masyarakat yang penting (Report of Meeting Baltimore, 1996).
Suatu
meta analisis dari 25 penelitian tentang pengaruh suplementasi zinc pada
pertumbuhan anak yang dilakukan oleh Brown (1998), menunjukkan bahwa pemberian
suplementasi zinc secara statistik bermakna memberikan efek yang lebih baik
terhadap pertumbuhan secara linier dan pertambahan berat badan anak.
Umur
juga merupakan faktor yang penting dalam hubungan antara defisiensi zinc dengan
perkembangan kognitif anak. Karena selama masa pertumbuhan dan perkembangan
cepat, seperti pada masa remaja jika konsumsi makan tidak cukup dan seimbang,
maka anak akan kekurangan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan
dan perkembangan tersebut seperti protein, vitamin, dan mikronutrien tertentu.
Anak-anak yang berasal dari pedesaan dan dari keluarga dengan .penghasilan
rendah ditemukan mempunyai konsentrasi zinc dalam plasma yang rendah selama
masa pertumbuhan dan masa remaja (Butrimovitz dan Purdy, 1978 cit Black,
1998) dan keadaan gizi anak yang berasal dari keluarga yang berpenghasilan
menengah menderita defisiensi zinc yang sedang selama masa pertumbuhan
(Skinner, et al., 1997 cit Black, 1998).
Pada anak yang masih menyusui, air susu ibu
tidak dapat mensuplai zinc dalam jumlah yang lebih, sehingga sulit untuk
memenuhi kebutuhan zinc bayi dan anak selama masa transisi dari air susu ke
makanan padat. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Brown (1998)
menunjukkan bahwa zinc yang dibutuhkan dari makanan tambahan berbeda dengan
zinc yang yang harus dipenuhi setiap hari (diperkirakan 2,8 mg/hari untuk usia
6-24 bulan) dan asupan zinc dari air susu ibu. Makanan tambahan harus
menyediakan 84-89% zinc yang dibutuhkan bayi pada usia 6-24 bulan.
Berdasarkan rata-rata asupan ASI di negara berkembang, bayi yang berusia 6-9
bulan membutuhkan 50-70 gr hati atau daging yang tidak berlemak setiap hari
atau kira-kira 40 gr ikan segar, untuk memenuhi tambahan zinc yang dianjurkan
dari makanan padat. Dari analisa ini mereka menyarankan untuk memberikan
suplementasi zinc atau fortifikasi zinc selama masa pertumbuhan karena bayi
dan anak di negara berkembang tidak mungkin memenuhi kebutuhan zinc mereka dari
makanan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar